Tarif Angkutan Udara Hambat Inflasi Jawa Timur

Harga daging ayam ras mengalami penurunan.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur mengungkapkan, hasil pemantauan terhadap perubahan harga selama September 2018 di delapan kota IHK Jawa Timur menunjukkan adanya penurunan harga di sebagian besar komoditas. Situasi ini mendorong terjadi penurunan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 0,01 persen, yaitu dari 132,42 pada Agustus 2018, menjadi 132,41 pada September 2018.

“Inflasi September 2018 tercatat lebih rendah jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2017. Karena pada September 2017 mengalami inflasi sebesar 0,19 persen,” kata Kepala BPS Jatim Teguh Pramono di Surabaya, Senin (1/10).

Dari tujuh kelompok pengeluaran, lima kelompok mengalami infasi, dan dua kelompok mengalami deflasi. Inflasi tertinggi adalah kelompok Pendidikan, Rekreasi, dan Olah raga sebesar 1,02 persen. Kemudian diikuti kelompok Sandang sebesar 0,41 persen.

Selanjutnya, kelompok Kesehatan 0,29 persen, kelompok Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar sebesar 0,23 persen, serya Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau sebesar 0,21 persen. Sedangkan yang mengalami deflasi antara lain kelompok Bahan Makanan 0,87 persen, dan kelompok Transpor, Komunikasi, dan Jasa Keuangan 0,24 persen.

Teguh melanjutkan, tiga komoditas utama yang mendorong terjadinya inflasi pada September 2018 ialah biaya akademi/perguruan tinggi, jeruk, dan pepaya. Selain biaya pendidikan, faktor lain yang mendorong inflasi pada September adalah naiknya harga jeruk dan pepaya.

“Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ternyata berimbas pada naiknya harga-harga buah impor, dan juga diikuti naiknya harga buah-buahan lokal,”ujar Teguh.

Adapun, tiga komoditas utama yang menghambat terjadinya inflasi di Jatim pada Semtember 2018 ialah daging ayam ras, tarif angkutan udara, dan telur ayam ras. Menurut Teguh, pada September 2018, harga daging ayam ras mengalami penurunan setelah beberapa bulan sebelumnya mengalami kenaikan. Penurunan ini lah yang menjadi faktor utama penghambat terjadinya inflasi.

Selain itu, lanjut Teguh, tarif angkutan udara juga mengalami penurunan setelah bulan sebelumnya mengalami kenaikan. Sehingga turut menghambat laju inflasi. Begitu pun, harga telur ayam ras yang terus mengalami penurunan hingga September 2018.

Teguh menambahkan, berdasar penghitungan angka inflasi di delapan kota IHK di Jawa Timur selama September 2018, tiga kota diketahui mengalami inflasi, dan lima lainnya mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Kediri yang mencapai 0,20 persen. Kemudian diikuti Surabaya sebesar 0,15 persen, dan Sumenep sebesar 0,02 persen.

“Sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Banyuwangi sebesar 0,49 persen, diikuti Probolinggo sebesar 0,32 persen, Malang sebesar 0,31 persen, Madiun sebesar 0,12 persen, dan Jember sebesar 0,05 persen,” kata Teguh.

Teguh mengungkapkan, jika dibandingkan tingkat inflasi kalender, sejak Januari-September 2018 di 8 kota IHK Jawa Timur menunjukkan, Surabaya sebagai kota dengan inflasi tahun kalender tertinggi. Yaitu mencapai 2,00 persen. Sedangkan kota yang mengalami inflasi kalender terendah adalah Probolinggo dengan tingkat inflasi sebesar 0,90 persen.

Baca juga, Kota Malang Alami Deflasi Tertinggi Selama 2018



Source link