Rahasia situs Tutari dan wisata sejarah Papua

Jayapura (ANTARA News) – Situs Megalitik Tutari berada di atas bukit Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua, yang bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun empat dengan waktu tempuh sekitar 20 menit dari Bandara Sentani dan sejam dari Kota Jayapura.

Di bagian utara, Situs Tutari merupakan bukit yang meninggi yang ditumbuhi ilalang, semak belukar dan pohon kayu putih serta tedapat batu-batuan besar, beberapa di antaranya digunakan sebagai media lukisan megalitik.

Sementara di bagian timur dan selatan ke arah kaki bukit, terhampar pemandangan Danau Sentani dengan rumah-rumah warga Kampung Doyo Lama yang tertata mengikuti tepian danau, dengan ujungnya atau tanjung biasa disebut bagian dari Bukit Teletabis, yang menjadi salah satu destiasi wisata.

Hari Suroto, peneliti dari Balai Arkeologi Papua mengungkapkan dalam legenda yang dipercaya oleh masyarakat Doyo Lama, Tutari adalah nama salah satu suku yang mendiami kawasan Danau Sentani bagian barat.

Suku ini telah punah akibat perang suku di masa lampau. Dalam cerita masyarakat Doyo yang mendiami wilayah Suku Tutari, disebut bahwa sekitar 600 tahun lalu di kawasan bukit di tepi Danau Sentani Barat pernah tinggal Suku Tutari, di perkampungan yang bernama Tutari Yoku Tamaiyoku.

Hingga kini masyarakat Doyo Lama percaya bahwa Bukit Tutari merupakan tempat keramat yang dihuni makhluk-makhluk gaib. Namun, dalam legenda ini tidak menceritakan tentang lukisan pada batu-batu yang ada, karena menurut warga setempat lukisan-lukisan itu telah ada sebelum nenek moyang mereka menempatinya.

Masyarakat Doyo yang tinggal di sekitar kawasan Situs Tutari sekarang ini bukanlah keturunan suku Tutari, nenek moyang mereka semula tinggal di Pulau Yonoqom atau Yonahang (Kwadeware,red) di Danau Sentani.

Pada waktu lampau secara tiba-tiba mereka menyerang dan membantai habis masyarakat suku Tutari, setelah itu mereka pindah dan bermukim di Tanjung Warako, kemudian berpindah lagi ke Ayauge di utara dan akhirnya mereka bermukim di tepi Danau Sentani yaitu di kaki Bukit Tutari.

Masyarakat Tutari pada masa prasejarah sudah mengenal kepercayaan animisme, dinamisme, dan mempercayai roh nenek moyang. Hal ini terlihat melalui motif-motif lukisan yang terdapat pada batu-batu di Bukit Tutari dan juga pada keberadaan jajaran batu dan batu tegak atau menhir.

Gambaran tersebut menunjukkan bahwa aktivitas religi masyarakat Tutari mendominasi hampir pada seluruh aspek kehidupan mereka, terutama berhubungan dengan roh nenek moyang maupun dengan kekuatan-kekuatan supranatural.

“Menurut cerita masyarakat Doyo, batu-batu yang ada di Bukit Tutari adalah masyarakat suku Tutari yang kalah perang dan mati kemudian berubah menjadi batu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, alumnus Universitas Udayana Bali itu memamparkan bahwa di kawasan Bukit Tutari terdapat sejumlah batu tegak, deretan batu serta bongkah-bongkah batu berlukis dengan berbagai macam bentuk motif seperti manusia, hewan, flora dan geometris.

Situs Megalitik Tutari telah dibagi menjadi enam sektor, di antaranya terdapat bagian objek lukisan-lukisan batu, tempat berdirinya batu berjajar dan paling atas menhir–bagian puncaknya–adalah tempat sakral dim ana ada 110 menhir yang masih tetap berdiri.

Untuk objek lukisan pada permukaan batu-batu, nampak terlihat goresan lukisan benda atau makhluk dari konteks Sentani, dalam gurat-guratan putih yakni gelang sebagai alat bayar setempat. Yoniki atau motif hias setempat yang terlihat goresan berbentuk ikan dan kura-kura serta fauna tangkapan endemik danau.

Lalu, batu berjajar atau ada empat batu besar berdiri berdekatan, berbentuk seperti memiliki kepala, leher, dan badan yang dijuluki sebagai batu ondoafi. Keempatnya mewakili empat suku di Doyo Lama yakni suku Ebe, Pangkatana, Wali, dan Yapo. Batu-batu itu tampak seperti manusia yang sedang menatap ke Kampung Doyo Lama.

Kemudian, kompleks batu tegak atau menhir yang ada di puncak bukit atau sektor enam ini, terlihat bahwa teknik pendiriannya unik, karena menhir-menhir itu tidak ditanam ke tanah, ?tapi hanya di permukaan tanah dengan ditopang batu-batu lebih kecil di sekitarnya.

Terdapat dua versi cerita terkait keberadaan menhir ini. Pertama, kompleks menhir ini sebagai tempat musyawarah orang Tutari dan batu tegak yang ada dianggap sebagai simbol tokoh-tokoh adat yang hadir dalam musyawarah.

Versi kedua, dianggap sebagai kompleks Dootomo atau pekuburan pria dengan 110 menhir `mini` setinggi lutut orang dewasa yang tegap menghadap Danau Sentani.

Mengenai goresan atau lukisan-lukisan batu di Situs Megalitik Tutari selai mengandung nilai estetika, juga menggambarkan kehidupan sosial budaya, ekonomi, dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu. Adapun motif lukisan Tutari di antaranya manusia, flora dan fauna, benda budaya dan motif lukisan geometris.

“Untuk motif lukisan manusia, ini tidak utuh ada yang terlihat leher dan ada yang tidak. Motif lukisan flora itu berbentuk kuntum bunga, motif fauna itu berbentuk ikan, kadal, dan kura-kura. Kalau motif budaya berbentuk kapak batu, sedangkan motif lukisan geometris itu berupa garis-garis melingkar, garis zigzag dan lingkaran,” katanya.

Keberadaan Situs Megalitik Tutari, lanjut Hari sangat penting untuk dilestarikan karena memiliki nilai penting dan bermanfaat bagi umat manusia dan identitas prasejarah bagi Papua apalagi dilindungi dengan undang-undang cagar budaya.

Hanya saja, mulai terjadi penurunan nilai prasejarahnya, karena lumut-lumut mulai menutupi sejumlah lukisan di batu, lalu ada penggunaan lahan situs untuk tower PLN, penggusuran lahan untuk pembangunan dan savana serta pohon kayu putih di areal situs sering terbakar.

Situs Megalitik Tutari, kata Hari, perlu perawatan dan pelestarian, apalagi saat ini pada permukaan batu banyak dijumpai alga, lichen, lumut, jamur serta terkena dampak kebakaran lahan yang dapat mengakibatkan proses pelapukan motif gambar.

“Meski situs ini terletak di Kabupaten Jayapura, tetapi status kewenangan pengelolaannya berada pada Dinas Kebudayaan Provinsi Papua. Instansi terkait pernah menyampaikan akan berkoordinasi untuk peralihan kewenangan dan pengelolaanya, tapi sejauh mana saya belum tahu,” kata Hari Suroto.

Wisata sejarah

Kepala Balai Arkeologi Papua Gusti Made Sudarmika mengatakan pemanfaatan Situs Tutari sebagai bagian dari pelestarian warisan budaya untuk kepentingan pembangunan karakter bangsa seperti pendidikan dan pariwisata budaya bisa ditempuh dengan memasukkan mata pelajaran muatan lokal.

Situs Megalitik Tutari dapat dijadikan sebagai destinasi pendidikan atau wisata edukasi bagi pelajar sekolah. Situs Megalitik Tutari memiliki potensi untuk dimanfaatkan sebagai sumber belajar sejarah bagi siswa sekolah.

“Caranya dengan membawa siswa langsung mengunjungi situs tersebut, agar tidak bosan hanya belajar dalam ruang kelas dan dapat memperkaya kreativitas siswa,” katanya.

Sehingga, kata dia, Balai Arkeologi Papua menggelar acara sosialisasi Rumah Peradaban Situs Tutari untuk 370-an siswa SD hingga SMA di Kota dan Kabupaten Jayapura selama dua hari, 26-27 September 2018. Namun, sebelumnya ada dua macam buku yang dibagikan kepada siswa sekolah, yakni buku dengan judul Megalitik Tutari Situs Peradaban Papua dan kedua buku berjudul Ayo Ke Tutari.

Untuk membuat agar siswa lebih tertarik dan tidak bosan, acara tersebut dikemas sedemikian rupa dengan diselingi sejumlah lomba yang dapat memotivasi siswa untuk lebih mengenal lagi tentang Situs Tutari.?

Seperti menggelar lomba menggambar peta NKRI, burung Garuda Pancasila, gambar motif Tutari, lomba stand up comedy ala Papua, lomba cerita rakyat Sentani, lomba pidato dan lomba merangkai gerabah serta lomba tulis karya ilmiah tentang Tutari.

“Jadi, selain memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal lebih dekat, bisa juga untuk meningkatkan wawasan siswa melalui proses pengamatan langsung sehingga nantinya mereka bisa menghargai tinggalan arkeologi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya,” kata Gusti Made Sudarmika.

Secara terpisah, Kasi Balitbangda Kabupaten Jayapura, Martha Yoku mengapresiasi langkah dari Balai Arkeologi Papua yang berupaya untuk mengenal Situs Megalitik Tutari kepada para pelajar yang ada di Bumi Kenambay Umbai nama lain Kabupaten Jayapura untuk lebih mengenal sejarah dan budaya dari daerah setempat.

“Kegiatan ini sangat baik, mungkin kedepan akan lebih ditingkatkan lagi sehingga Situs Tutari menjadi lebih terkenal dan menjadi salah satu obyek wisata di Kabupaten Jayapura,” kata Martha Yoku.

Trayunani guru prakarya dari SMP Negeri 1 Sentani, Kabupaten Jayapura mengaku bangga dengan pelaksanaan sosialisasi Rumah Peradaban Situs Megalitik Tutari yang melibatkan pelajar dari sekolahnya, apalagi dipadukan dengan berbagai lomba dan dibagikan buku-buku tentang Tutari.

“Kami ada pelajaran tentang Tutari yang disisipkan dipelajaran sejarah, sementara untuk gerabah, kami sisipkan dalam pelajaran prakarya, harapannya kedepannya kami mudah untuk dapatkan tanah liat untuk latih siswa buat gerabah,” pinta Trayunani

Senada itu, Hilda Msen, guru IPS yang juga mengajar sejarah dari SMP Negeri 5 Sentani, Kabupaten Jayapura mengaku senang dan bangga pelajar sekolahnya dilibatkan dalam sosialisasi tersebut.

“Pelajar kam senang diajak dalam kegiatan ini untuk melihat secara langsung, soalnya mereka tidak tahu tentang Tutari padahal tempatnya tidak jauh dari sekolah kami. Ini kesempatan yang baik bagi anak-anak untuk belajar langsung di lapangan apalagi diberikan buku-buku tentang Tutari, harapanya mereka bisa ceritakan kepada teman-temanya di sekolah,” kata Hilda Msen.

Sementara, Rehuel, pelajar dari SMA Negeri 1 Sentani, Kabupaten Jayapura yang mengikuti lomba pidato berpendapat bahwa bahwa Situs Megalitik Tutari bisa mendatangkan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat, asalkan dikelola dengan baik dan terintegrasi.

“Situs Tutari memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi masyarakat setempat dan juga merupakan aset budaya yang harus dilestarikan, jika ini dikelola dengan baik, maka bisa datangkan nilai ekonomi,” katanya di hadapan tim dewan juri dari Balai Arkeologi Papua dan antropolog senior Papua, Paul Yam.

Menurut dia, diperlukan penataan infrastruktur pendukung yang baik, seperti pondok untuk tempat istirahat ataupun kantin untuk tempat berjualan serta perlunya penambahan sejumlah keterangan pada situs-situs di Tutari, dengan harapan bisa menampung warga setempat untuk menjajakan hasil bumi atau suvenir yang khas.

“Perlu juga kerja sama dengan pemandu wisatawan asing dan pihak terkait, agar tempat ini lebih dikenal, selain memasang spanduk ditempat-tempat strategis seperti di Bandara Sentani,” kata Rehuel.

Pemanfaatan Situs Megalitik Tutari sebagai destinasi wisata dapat mengedepankan pelestarian dengan tidak mengubah bentuk, warna ataupun tata letak tinggalan megalitik.

Terlebih dengan tidak melakukan tindak vandalisme seperti merusak, mengganggu objek maupun lingkungan sekitar yang dapat memengaruhi kualitas tinggalan megalitik, serta tetap memerhatikan aturan hukum adat dan norma sosial yang berlaku di dalam masyarakat Doyo Lama.

Pewarta:
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2018



Source link