Ini Pesan MUI di Masa Kampanye Pilpres dan Pileg

Para penyelenggara dan peserta Pemilu wajib bersikap jujur, adil dan profesional.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Zainut Tauhid Sa’adi menyampaikan, sehubungan dengan telah dimulainya masa kampanye pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg), MUI menyampaikan pesan-pesan kepada semua pihak. Zainut mengatakan, para penyelenggara Pemilu wajib bersikap jujur, adil dan profesional. Supaya dapat terselenggara Pemilu yang tertib, aman, damai dan bermartabat. Sehingga rakyat dapat menggunakan hak pilihnya dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, merasa gembira dengan tanpa adanya tekanan dan paksaan.

“Kepada peserta pemilihan umum (pemilu) baik pasangan capres-cawapres, partai politik, tim sukses dan juru kampanye hendaknya dapat menciptakan suasana yang kondusif, misalnya dalam menyampaikan pendapat harus tetap mengindahkan nilai-nilai kesantunan, kepatutan dan akhlak mulia,” kata Zainut kepada Republika.co.id, Selasa (25/9).

Ia menyampaikan, peserta pemilu juga dimbau menjauhkan diri dari praktik politik kotor seperti kampanye hitam, provokasi, intimidasi, ujaran kebencian, hoaks, fitnah, politik uang dan politik SARA. Kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh adat dan media masa diharapkan dapat memerankan diri sebagai perekat dan pemersatu bangsa.

Mereka semua diharapkan dapat ikut membantu mendinginkan suasana selama masa kampanye. Agar pesta demokrasi yang menjadi hajatan nasional bangsa Indonesia dapat berjalan dengan lancar, tertib, aman dan menggembirakan. Kemudian kepada aparat kepolisian MUI minta untuk bertindak tegas, adil, transparan dan profesional.

“Penegakan hukum harus dilakukan kepada siapa pun tanpa membedakan warna partainya, sehingga masyarakat mendapat jaminan perlindungan dan kepastian hukum dalam menunaikan hak-hak konstitusionalnya,” ujarnya.

Zainut menambahkan, perbedaan pilihan hendaknya disikapi dengan penuh kedewasaan, saling menghormati dan saling memuliakan. Mendahulukan kepentingan nasional di atas kepentingan kelompok dan golongan. Menjunjung tinggi semangat persaudaraan, persatuan dan kesatuan. “Jadikanlah perbedaan aspirasi politik sebagai rahmat untuk saling menghormati dan memuliakan agar persaudaraan sebagai bangsa tetap terpelihara,” jelasnya.

 



Source link