ACT Buka Posko Kemanusiaan di Pusat Kota Palu

ACT menyiapkan Posko Utama sebagai pusat koordinasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kondisi pascagempa di Kota Palu dilaporkan masih mencekam. Beberapa fasilitas seperti listrik masih belum menyala, air bersih langka, krisis bahan bakar minyak, hingga akses transportasi darat maupun udara masih sangat terbatas.

Sementara itu pasokan logistik masih langka untuk ditemukan. Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) pun menyiapkan Posko Kemanusiaan ACT di Kota Palu untuk menyiapkan aksi skala masif dan pusat koordinasi. Koordinator Tim Emergency di Kota Palu, Kusmayadi, mengabarkan Posko Utama Tim ACT di Kota Palu beralamat di Jalan H Hayun, Kelurahan Besusu Barat, Kecamatan Palu Timur, Kota Palu.

“Tidak mudah untuk mencari bangunan yang layak dan sekiranya tahan gempa untuk dijadikan posko ACT pascagempa di Kota Palu. Bangunan di pinggir laut habis disapu tsunami, sementara bangunan yang masuk ke selatan Palu banyak sekali yang mengalami kerusakan fisik. Kami juga mencari bangunan yang berada di tengah Kota Palu, untuk memudahkan tim evakuasi ACT bergerak ke lokasi di sekitar Palu,” ujar Kusmayadi dalam keterangan tertulis yang didapat Republika.co.id, Selasa (2/10).

Tantangan lain datang dari bangunan rumah yang ditinggal oleh sejumlah warga untuk mengungsi. Kalaupun ada bangunan utuh dan tidak mengalami retak, tim ACT tidak bisa mengakses karena bangunannya dikunci dan ditinggal penghuninya mengungsi.

Permasalahan air bersih dan listrik yang padam pun menjadi urusan pelik di seluruh kota. Tim ACT di lokasi bencana melaporkan, sudah berhari-hari sejak gempa terjadi, mereka hanya berwudu menggunakan air mineral. Mandi adalah hal mustahil karena air bersih yang langka. Masalah ini yang juga menjadi prioritas untuk menyiapkan Posko Utama ACT yang layak.

“Insyaallah, Posko ACT di Palu bisa menyala listriknya dengan genset. Air bersih juga sedang kami siapkan di posko. Bangunan posko sudah kami pastikan tahan guncangan gempa susulan karena tidak ada yang mengalami keretakan,” ujar Koordinator Relawan dan Logistik ACT Nur Ali Akbar.

Memulai aksi dalam kondisi serba darurat dan terbatas, beberapa kendaraan operasional Tim ACT di Palu bahkan menggunakan mobil yang penyok-penyok akibat tertimpa runtuhan gempa. Seperti kendaraan operasional medis ACT misalnya, mobil berwarna putih itu menjadi saksi bisu betapa gempa dan tsunami Palu terjadi begitu dahsyat.

Kondisi di lokasi disebut serba darurat. Selagi Ambulans ACT sedang dikirimkan langsung dari Kota Makassar, tim relawan kesulitan mencari kendaraan roda empat untuk mobilisasi seluruh Tim ACT. Beberapa kendaraan bekas terkena gempa pun digunakan untuk sementara waktu.

Memasuki hari keempat pascagempa, aksi darurat bencana Tim ACT berfokus pada urusan evakuasi jenazah yang mulai membusuk dan memastikan pasokan logistik terjamin. Senin (1/10) petang, Tim ACT sempat mengevakuasi puluhan sampai ratusan jenazah yang tergeletak begitu saja di halaman parkir RSUD Undata Kota Palu. Karena minimnya kantong jenazah, tubuh yang mulai membusuk karena tergulung tsunami itu dibiarkan sementara di halaman RSUD Undata.

“Senin sore, kantong jenazah datang. Sejumlah relawan ACT segera bergegas memindahkan jenazah ke dalam kantong jenazah untuk segera dikuburkan di lokasi pemakaman massal. Kondisi tubuh jenazah yang mulai membusuk bisa sangat berbahaya bagi pengungsi di sekitarnya,” ucap Aria Rahadyan, salah satu Tim ACT yang tengah berada di Palu.



Source link

Komentar